Kamis, 13 November 2014

Kumpulan Puisi Islami

Kumpulan Puisi Islami


Yang Hampir Punah – oleh Nank Malleo Surya Opunk

Berabad – abad silam
Dengan kehendak Sang Maha Pengatur
Insan yang dicipta
Sebagai khalifah…
Seraya bertasbih mengagungkan
Sang Kholik azza wa zalla
Seiring para malaikat
Bersujud atas perintah
Sang Maha Penguasa jagat raya
Akan tetapi ….
Sosok ciptaan dari Api
Tanpa kasat mata
Dengan angkuh dan jumawa
Ingkar pada perintah Maha Raja
Seraya bersumpah dengan terlaknat
Akan menyeret anak cucu
Pada kesesatan dalam gelap
Hingga matahari terbit dari barat
Sehingga ….
Dipenghujung masa …
Manakala jagat raya bosan
Dan akan berhenti berputar
Menjelang itu …
Inti sel darah cucu sang khalifah
Tergantikan dengan …
DNA dan darah si terlaknat yang bersumpah
Hanya raga tersisa …
Sebagai anak dan cucunya
Sementara jiwanya
Sudah terseret dalam pusaran air
Di dasar samudra Segitiga Bermuda
Menjadi budak teraniaya
Sehingga hati dan detak jantungnya
Tidak lagi terukir
Dengan Asma Sang Pencipta
Akhirnya ….
Populasi hati dan jantung yang bertasbih
Yang terdapat dalam raga cucu khalifah
Diambang kepunahan …
Menjadi populasi jiwa yang busuk
Terlaknat dan terkutuk

Masjid Kecil Yang Sunyi – oleh Danal Fitrah

Saat ku buka pintumu di subuh itu
Terhirup sepi menyeruak dalam kalbu
Menggenang rindu di hamparan sajadahmu
Basahi sujudku yg sendiri terbawa sendu
Biar tak merdu ku lantunkan ayat-ayat suci
Bersama dzikir ku yakin kau dengar pasti
Ku harap akan dapat sedikit mengobati
Rasa rindumu yg telah berkarat sepi
Masjid kecil dengan pintu-pintu berukir
Pada mimbarmu da’wahku segera berakhir
Resahku kini bawa rindumu dalam syair
Buah renungan di sebuah desa di tepi air
Esok bila ku telah menjauh dari desa ini
Kan ku tatap kubahmu yang pancarkan sunyi
Sembari memanjatkan do’a pada Ilahi
Semoga pencintamu kelak datang berganti.

Akhir Sebuah Perjalanan – oleh Refsi Nurma Nelfahny

Kelam menghampiri di atas buta
Gelap tak ada rupa
Sunyi bila akan di rasa
Menyentuhnya tanpa harus meraba
Senyum gemulai seakan sirna
Mampu menghapus segala suka
Ringan hati ini berkata
Akankah firasat kan nyata?
Bila detak tak kembali
Apakah cerita takkan berakhir
Bila langit tak membiru
Apakah cerita takkan berlanjut
Sesal…
Apa itu yang menggores?
Sedih….
Apa itu yang menyelimuti?
Perih….
Apa itu yang menghiasi?
Tersandar benih di pipi
Yang akan membasahi
Menenteskan buiran jernih
Yang kini mengalir tanpa pamrih

Doa di penghujung malam – oleh Danal Fitrah

Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Penyayang
Hamba gelisah karena fajar segera menjelang
Dan ku takut jalani hari yg terpuruk dan terbuang
Kala mata dunia kembali menatap garang
Tatapan itu tak hanya sekali buatku kufur
Sebab pesonanya membelai anganku tergiur
Dan bila derita hidup tak ku bingkai dgn syukur
Kembali ku dapati diri menangisi imanku tersungkur
Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pemurah
Engkau Maha Tahu kesulitan hamba dlm gelisah
Tak letih mengharap untuk jumpai berkah
Rindukan nikmat-Mu agar hidup tak salah arah
Tapi bila hidupku kembali terbuang imanku tersungkur
Berikan hidayah-Mu sebelum ku terbenam di dalam kubur
Biarpun harus hidup di pondok suram meraba dlam kelam
Kala terjaga memohon ampunan dalam do’a di penghujung malam.

Isyarat Tuhan – oleh Dewi Wahidatul Faiza

Kupikir.. Dengan datangnya mendung
Selalu Kau hadirkan hujan.
Tapi kehendakMu bicara lain
IsyaratMu berkehendak lain
Kau hadirkan kesukaran
Tapi tak selalu kau hadirkan air mata.
Namun kau hadirkan hujan saat senja
Seusainya kau ciptakan
Guratan indah yang silaukan mata
Tak cukup lukiskan indahnya dengan kata
IsyaratMu luar biasa Tuhan..
Kau hadirkan kesedihan
Namun Kau telah menjanjikan
Seberkas kebahagiaan
Yang tak mampu terlukis
Diatas bentangan kanvas..

Air mata al-qur’an – oleh Siti Aulia Nabila

aku adalah sesuatu yang akan membawamu kejalan yang lurus..
andai aku bisa bicara,dan
andai aku bisa menangis…
aku ingin bicara kepadamu…
aku berharap kepadamu..
agar kamu tidak lebih mementingkan duniamu
melainkan pentingkanlah akhiratmu…
aku ingin menangis…
menangis disaat kau telah melupakanku..
dulu,ketika kau kecil kau selalu menyentuh hingga membaca dan menyayangiku..
Tapi kini…
kini kau telah dewasa..
dan dan kau selalu mementingkan dirimu sendiri
hingga kau lupa kewajibanmu untuk membaca dan menyayangiku…
kini kau lupa dengan ku..
dan kau tega menyimpanku
di pojokkan yang penuh debu…
kini badanku tertutupi debu,dan
badanku kini telah terobek-robek
seperti sampah kertas yang dibuang dengan sengaja…
aku mohon…
bacalah aku dan sayangi aku…
apa salahku? sehingga kau tega
melupakanku begituh saja…

Rindu Kau Ya Rasul – oleh Eva Indriyani

Kurasakan rindu di dalam hati ku
Mengalun lembut syahdu….
Ku tulis nama mu di dalam hati ku
Tak akan pernah hilang dimakan waktu
Ku sanggup menunggu hingga ahir waktu
Tuk bersujud pada mu……
Apakah kau kan mencintaiku
Apakah kau kan menyayangiku
Dengarlah rintihan hati ku
Mengucap dan menyebut namamu
Duhai rasul ku…..
Ku sangat merindukanmu……..

Kematian yang indah – oleh Ilham Nurhamdi

Keteguhan hati seseorang
Di titik jenuhnya ia bersimpuh
Bahkan sujudnyapun tanpa malu-malu
Padahal bila menengok ke belakang
Ia pun tak luput dalam sandungan
Banyak kata mengapa?
Mengapa ia seberani itu?
Tak malukah ia?
Hati berkeluh.. Manusia..
Kucuran air mata menggenang
Seraya meminta tolong
Seraya berkata jangan
Beri aku kesempatan
Pertanyaanpun tak kunjung pergi
Mengapa sampai sebegitunya?
Mengapa ia harus mengemis dalam do’anya?
Apa yang hendak ia capai?
Kematianlah jawabannya
Berterima kasihlah pada-Nya

Ketauhidanmu – oleh Alifidyah N H

disaat dunia penuh dengan mulut-mulut pisau.
namun,kau tetap menggunakan mulut-mulut tasbih.
disaat hati seseorang penuh dengan bara api.
namun,hatimu tetap penuh dengan kesejukan Al-Qur’an.
disaat badan seseorang penuh dengan selimut kehangatan.
disitu badanmu penuh dengan selimut ketauhidan.
air yang membasahi kerutan dipipimu.
dari tepi bibirmu kau ucap asma Allah.
jari yang terus memutarkan bola-bola kecil Tuhan tanpa rasa lelah.
dengan tubuh yang mulai remuk oleh waktu.
dengan rasa tunduk dan kataqwaan.
kau tegakkan ketauhidanmu di hadapan sang kholiq.

Mualaf – oleh Nandica Ajeng Pramesty

Terucap syukur.
Saat kau tlah selesai mengucap
Dua kalimat syahadad
Sebagai tanda kau telah menginjak agama baru
Tak perlu kau ragu dengan yang sekarang
Karena aku akan membimbingmu
Hingga kau benar melekat pada iman yang kuat
Bukan aku saja,
Tapi percayalah jika Tuhan mu yang sekarang
Juga akan menguatkanmu
Dalam setiap cobaan yang kau terima
Tak perlu kau takut dengan yang sekarang
Kau sudah putuskan keraguanmu
Hingga kau menjadi seorang mualaf
Aku bahagia
Aku bersyukur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar